Evo-Innovation: From Disruption to Superinnovation

Dalam beberapa tahun belakangan, saya mengamati telah terjadi pergeseran inovasi dari tahun ke tahun yang semakin menarik. Pemicunya ialah perkembangan teknologi, dinamika perekonomian, peralihan antargenerasi dan perubahan perilaku konsumen, perkembangan model bisnis, dan lainnya. Di sisi lain, permasalahan sosial, perubahan iklim (climate change), isu geopolitik, dan lainnya menjadi pemicu melahirkan inovasi-inovasi baru.

Dengan demikian, sejalan dengan pakar Noubar Afeyan di Harvard Business Review (2021) dan Dave Wright di Forbes (2024) yang menyebutkan bahwa inovasi bukanlah sekadar teknologi mutakhir, melainkan bagaimana menemukan solusi (finding solution) untuk menyelesaikan segala permasalahan di bumi. Karena itu, menurut mereka evolusi inovasi (evolution of innovation) bukanlah hanya bagaimana teknologi berkembang, melainkan bagaimana teknologi digunakan untuk mensolusikan berbagai masalah. “Innovation is more than cutting-edge tech and slick design—it’s about finding solutions to the world’s problems,” tulis Dave Wrigth.

Contohnya, bagaimana inovasi yang dulu cenderung berasal dari pekerjaan laboratorium mencari temuan secara tertutup (isolated invention) berkembang menjadi collaborative ecosystems sehingga melahirkan open innovation dan crowdsourcing. Dahulu, inovasi yang hanya “proyek sampingan” (side project) di perusahaan, kini harus menjadi core competency yang harus dimiliki sehingga bisa lebih adaptif dan relevan. Dahulu inovasi hanya berada di unit kecil didalam organisasi perusahaan, kini perusahaan mendorong budaya inovasi (culture of innovation) di seluruh karyawan. Kini inovasi bergeser ke penyelesaian masalah-masalah masyarakat (human-centered) dan lingkungan (environment-centered) sengan sangat cepat. Dengan demikian, inovasi akan terus bergerak cepat seiring dengan perkembangan dinamika yang ada.

Setelah kami rilis buku ke-3 terikait Disruption (2018), kemudian buku ke-4 tentang Ecosystem Collaboration (2022), dan buku ke-5 mengenai pentingnya Unleashing Innovation (2024), masing-masing mempunyai dinamika berbeda sehingga formulasi setiap buku menyelesaikan problem pada eranya masing-masing. Berikutnya buku ke-6 yang akan berjudul Superinnovation: 5 Innovation Treadmill 2026 akan menjadi cycle baru untuk membentuk kekuatan ke depan.

Oleh karena itu, saya yakini bahwa evolusi inovasi telah berkembang dengan sangat cepat. Saya menyebutnya sebagai EVO-INNOVATION, yakni perkembangan inovasi karena kebutuhan mendesak pada setiap era yang dipicu oleh dinamika global dan lokal, teknologi, lingkungan, bisnis, dan lainnya. Setiap perkembangan memiliki karakteristik unik yang membuat perusahaan harus mempersiapkan STRATEGI INOVASI sebagaimana salah satunya diuraikan Prof. Gary P. Pisano dalam bukunya Creative Construction (Harvard Business School, 2019).

Disruption Era

Jika kita rangkum bagaimana inovasi berkembang, saya melihat perkembangan menarik dimulai saat munculnya startup di seluruh belahan dunia dengan kreatif bisnis model dan teknologi yang menarik sebagai solusi baru untuk masyarakat. Saat itu, inkumben dengan terpaksa harus bersaing dan mewaspadai layanan startup yang memicu inkumben untuk berbenah. Pada 2018, saya menerbitkan buku Synergy Way of Disruption (2018), dimana korporasi dipacu untuk memaksimalkan sinergi didalam untuk melahirkan inovasi baru yang lebih bermanfaat dan mematikan.

Ecosystem Collaboration Era

Akibat Pandemi Covid-19, perusahaan dalam tekanan keterbatasan yang menyebabkan kesulitan keuangan, sementara itu korporasi harus terus berjalan untuk meningkatkan profitabilitas serta memperbesar market share. Dalam momen tersebut saya melihat pentingnya inovasi yang dihasilkan dari dalam perusahaan (from within) juga perlu dipertimbangkan strategic partnership yang berimpak dengan siapapun yang dapat menguntungkan semua pihak, termasuk startup yang dapat dipertanggungjawabkan. Saat itu buku Synergy Way of Ecosystem Collaboration (2022) diluncurkan. Ada cara-cara yang harus dilakukan pada era tersebut, yang melihat bahwa inovasi dapat dihasilkan dari sinergi di dalam dan kolaborasi dari luar dengan siapapun, sehingga menghasilkan layanan baru yang dapat memberikan market share lebih besar dengan cara yang mudah.

Unleashing Innovation Era

Selanjutnya, di masa pasca-pemulihan Pandemi Covid-19, kala itu perusahaan masih menghadapi financial distress, disisi lain indeks Global Talent Competitive Index INSEAD 2025 (82), Unemployment Rate (5%), Global Competitiveness Index (40), dan lainnya. Sehingga korporasi harus terus bergerak cepat menyelesaikan persoalan itu. Melalui buku Unleashing Innovation (2024), saya berpendapat bahwa perusahaan pada era tersebut harus dibuka selebar-lebarnya baik global maupun lokal untuk melahirkan inovasi yang berimpak besar, mengejar portfolio baru agar layanan tetap inovatif dan lebih efisien, setiap orang harus mempunyai kesamaan culture of innovation sebagai innovation catalyst di dalam organisasi, namun harus tetap memperhatikan kepentingan bangsa.

Superinnovation Era

Tantangan geopolitik menciptakan risiko uncertaintity makin tinggi antara lain foreign policy begins at home, hukum ala carte, politik bebas-aktif yang tidak statis, weaponized economymultiplex world order, diplomasi ketahanan, networks, not isolation, ancaman serius bagi multilateralisme, Indonesia tidak meninggalkan multilateralisme, keanggotaan tidak tetap Dewan Keamanan PBB (2029-2030), keketuaan Indonesia di D8, penguatan ASEAN, dan perjuangan diplomasi untuk Palestina (Pidato Menlu RI 14/01/2026), juga tentunya perubahan Departemen Pertahanan menjadi Departemen Perang Amerika, serta dinamika nasional, maka akan dapat mengguncang rantai pasok pangan, energi, teknologi, dan stabilitas pasar. Ditambah dengan berkembangnya AI yang sangat cepat dan semakin dominan, banyaknya startup yang meredup karena fraud, disisi lain peringkat indeks ranking pendidikan berada di urutan ke-128 dunia dan rata-rata IQ 78, dalam situasi ini, organisasi apapun baik di Pemerintahan maupun di private sector dipaksa harus adaptif.

Jangan hanya berpikir bagaimana menggunakan teknologi. Mereka disana berpikir bagaimana membuat teknologi.

Achmad Soegiarto

Penciptaan inovasi yang berdampak harus digelorakan di seluruh Nusantara dari Sabang sampai Merauke sebagai bagian dari antisipasi Wave-6 yaitu Wave of Innovation & Sustainability, tidak cukup gerakkan inovasi hanya di korporasi, tetapi gerakkan inkubasi dan akselerasi mulai dari seluruh Sekolah Menengah Atas hingga Universitas sehingga kita mampu melahirkan banyak enterpreneur nasional, apalagi trend teknologi yang telah berubah cepat, sehingga diharapkan bangsa ini mempunyai bargaining yang sangat kuat bersaing tingkat global, dan untuk “Mewujudkan Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi” dengan anggaran mencapai Rp2.978 triliun (Kemenkeu RI, 2025) kita harapkan banyak terobosan baru sehingga terukur dan efektif mengenai sasaran. Superinnovation akan menjawab kebutuhan Pemerintah dan private sector melalui akselerasi ekosistem inovasi secara nasional berdampak mewujudkan kemandirian, kedaulatan, dan kemajuan.

Ibarat supercomputer, Superinnovation adalah game-changer evolusi inovasi masa kini yang sangat diperlukan. Superinnovation dapat diukur, saya menyebutnya dengan 5 innovation treadmill yaitu The Need to Survive & Thrive, 10 Tech Trends in 2026, The Gen Z & Job Trends 2026, Becoming Octopus Organization, dan 10 Business Model Trends 2026.

Bila Anda membutuhkan konsultasi dapat menghubungi ke nomor: 0823-0827-9787. Nantikan buku Superinnovation akan diluncurkan 17 Agustus 2026.

Kesimpulan

Gerakkan inovasi seluruh Nusantara yang berimpak dan terukur dengan cara semakin sistematis, mudah dan cepat, sudah menjadi budaya nasional, saya menyebutnya dengan Superinnovation sebagai sistem memperkuat ketahanan dan menyerang balik, dalam market global sekalipun. Karya original Anak Bangsa. []

Referensi

Achmad Soegiarto, Inovasi Teknologi Disaster Risk Reduction, December 2025.

Achmad Soegiarto, Unleashing Innovation with Sprint+: How Organizations Can Cultivate Innovation Catalysts, 2024.

Achmad Soegiarto, Synergy Way of Ecosystem Collaboration, 2022.

Achmad Soegiarto, Synergy Way of Disruption, 2018.

Jana Werner & Phil Le-Brun, The Octopus Organization: A Guide to Thriving in a World of Continuous Transformation, HBR Press, 2025.

Andrew Binns, Charles A. O’Reilly, Michael L. Tushman, Corporate Explorer: How Corporations Beat Startups at the Innovation Game, Wiley, 2022.

Kementerian Keuangan RI, RAPBN Tahun Anggaran 2026: Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi Menuju “Indonesia Tangguh, Mandiri, dan Sejahtera”, Siaran Pers, 15 Agustus 2025.

Darrell Rigby & Zach First, Get Off the Transformation Treadmill, Harvard Business Review, Jan-Feb 2026.

G. Pascal Zachary, The Technology Treadmill, Stanford Social Innovation Review, 2020.

Chuck Leddy, Slowing the Work Treadmill, The Harvard Gazette, August 2013.

IBM Insights, 5 Trends for 2026, December 2025.

Noubar Afeyan & Gary P. Pisano, What Evolution Can Teach Us About Innovation, Harvard Business Review, 2021.

Dave Wright, The Evolution of Innovation, Forbes, April 2024.

Cambridge Open Academy, Top 10 Technology Trends in 2026 That Will Shape the Next Decade, December 2025.

Peter High, Gartner’s Technology Trend Playbook for 2026, October 2025.

Gartner IT Symposium/Xpo, Gartner Top 10 Strategic Technology Trends for 2026, October 2025.

IMD, 6 Emerging Technologies that Will Impact Your Business in 2026, September 2025.

KPMG, The Next Evolution: How AI Will Transform Global Business Services by 2026, 2025.

London Business School, 2026 Trends for Business, December 2025.

Will Morey, Tech Trends 2026: Where Innovation Meets Resilience, IT Brief, November 2025.

Deloitte, Deloitte 2026 Technology, Media & Telecommunications Predictions: Narrowing the Gap Between the Promise of AI and its Reality, 18 Nov 2025.

Gary P. Pisano, Creative Construction: The DNA of Sustained Innovation, PublicAffairs, 2019.

Post navigation

Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *